Rabu, 23 Januari 2013

Resensi Lipstick Traces : A Secret History Of The 20th Century

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN No comments





                 Judul                   : Lipstick Traces : A Secret History Of The 20th  Century
                 Pengarang           : Greil Marcus
                 Tebal buku          : 496 halaman
                 Bahasa                : Inggris
                Penerbit                :  Harvard University Press
                 Tahun terbit          : 1989 (cetakan perdana)


         
            Sebuah abad tidak dapat terlepas dari peristiwa-peristiwa yang membentuknya. Di setiap abad ada sebuah ciri khas tersendiri. Lipstick Traces bercerita mengenai abad ke 20 dari sisi yang tidak “biasa”. Abad ke 20 dalam buku ini adalah sebuah abad yang penuh dengan gelora resistensi anak-anak muda meskipun tidak dapat dipungkiri buku ini juga membahas kontradiksi tersendiri yang dialami oleh anak-anak muda abad itu yaitu sebuah kecenderungan untuk menjadi cuek atau bahkan nihilistik. 
            Dalam buku Lipstick Traces merangkai argumennya dari peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak biasa dan bagaimana peristiwa tersebut berelasi dengan konteks zaman ini . Lahirnya etika seni seperti Dada, Situasionist, atau bahkan kelahiran genre musik seperti rock & roll maupun punk bukanlah sebuah sejarah kelahiran yang instan atau dapat dikatakan netral dari tendensi politik apapun. Di buku Lipstick Traces ini, karya seni diperlakukan tidak seperti artefak sejarah yang hanya mengisi etalase museum atau teronggok mati di gudang belakang rumah anda. Karya seni adalah sebuah bentuk aktualisasi diri, sebuah hasil produk budaya yang tidak hanya saja dapat dinikmati namun juga direnungkan maknanya. Dalam karya seni, tidak hanya berisi estetika atau keindahan, akan tetapi juga sebuah statemen. Kita bisa merujuk kepada sebuah etika seni Dadaisme , sebuah etika yang memiliki absurditas dan juga tendensi ke arah nihilistik. Alasan mengapa Dadaisme bisa populer dan dinikmati oleh para kawula muda ketika itu karena Dadaisme dianggap cocok dengan realita yang dibentuk abad ke 20, sebuah zaman dimana nihilisme, kepasifan dan absurditas adalah sebuah cara lari dari kenyataan. Itu satu sisi yang diungkap oleh Greill Marcus mengenai Dadaisme dan mengapa itu berkolerasi dengan muda-mudi di abad ke 20. Setelah bercerita panjang lebar mengenai Dadaisme , Greill Marcus membawa para pembacanya ke etika seni yang kedua yaitu Situationist, sebuah etika seni yang merupakan kombinasi dari teori Marxisme , semangat perlawanan terhadap kesenjangan sosial dan instrumen artistik Avant –garde ala Eropa. Semangat dari aliran ini adalah menyediakan sebuah konsep alternatif untuk membahasakan politik dan mempropagandakan resistensi melalui seni. Tujuan mereka jelas yaitu menyediakan pendidikan politik bagi masyarakat urban untuk tidak menjadi masyarakat yang tidak ambil peduli akan permasalahan sosio politik di sekitar mereka. Aliran seni yang terakhir yang dibahas dalam buku ini adalah aliran seni musik rock & roll dan punk. Kedua aliran musik ini lahir pada sebuah masa yang dimana alienasi , kebosanan dan kemapanan sebuah sistem menjadi sebuah wacana yang dominan. Rock & roll dan punk tidak hanya sekedar alunan musik namun juga merambah ke gaya hidup anak muda di awal abad ke 20 seperti seks, minuman keras, lirik lagu yang maskulin dan gaya berpakaian serta model rambut. Punk dan Rock & Roll adalah sebuah tonggak sejarah baru di abad ke 20 karena tidak hanya produk budaya berupa lagu-lagu hits belaka namun juga sebuah cara mewacanakan resistensi terhadap kemapanan, perang, isu gender, rasisme dan kapitalisme.
            Dalam buku ini, Greill Marcus mengajak para pembaca untuk membaca sebuah pola kecenderungan sejarah khususnya sejarah seni. Buku ini menawarkan pembacaan baru untuk melihat bagaimana seni dapat menjadi ruang berpolitik, ruang dimana diskursus budaya saling berkontradiksi dan berdialektika. Di era sekarang, produk budaya tanding seperti budaya punk, rock & roll, hip-hop, visual kei atau graffiti merajalela dan dapat diakses dengan mudah. Seniman – seniman dengan ide – ide budaya tanding tadi apabila dipertemukan strategi pemasaran yang tepat akan meraup keuntungan secara maksimal disertai dengan meroketnya popularitas. Hal inilah yang tidak banyak dibahas atau diantisipasi dalam buku ini. Greill Marcus tidak mencoba untuk melihat kecenderungan sebuah produk budaya tanding untuk dikomodifikasi yang nantinya akan membuat produk budaya tersebut tidak ada ubahnya seperti barang industri belaka.
            Membaca Lipstick Traces akan mempermudah anda untuk mengerti genealogi dari budaya tanding itu sendiri dimulai dari isu apa yang dibahas instrumen seni macam apa yang digunakan, dan bagaimana situasi sosial politik mempengaruhi sebuah konteks dari karya itu sendiri. Untuk para akademisi studi budaya, buku ini bisa menjadi acuan untuk genealogi dan juga kritik terhadap budaya kontemporer di masa sekarang. Sesamar apapun,  seni adalah bentuk peninggalan jejak  peradaban manusia dan akan selalu menarik untuk dikaji. Ya, seperti jejak samarnya jejak lipstik. (By : Dipa Raditya)