Selasa, 23 Oktober 2012

Andai Kau Perlihatkan Surga-Mu

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , No comments


   oleh : Pandu Septa 


Tak lelahkah kau berlari
Tak bosankah kau mencari
Dunia yang mensyaratkan materi
Gadaikan hati jual harga diri

Pemimpin sibuk menarik upeti
Sang Pelajar menuntut ilmu gaet materi lancar rezeki
Si cantik berlomba menjajakan diri
Mengejar dunia seakan hidup abadi

Seandainya kau perlihatkan surga-Mu
Si bodoh mana yang masih ragu
Mengabdikan diri sepanjang waktu
Memandang harta layaknya benalu

Sedikit saja kau izinkanku mengintip surga
Mencium harumnya dan mencicipi manis buahnya
Bermanja-manja dengan fasilitas melebihi raja
Beralaskan awan dan bermandikan susu kualitas surga

Terlihat bidadari berkulit bersih bermata jeli
Berwajah cantik lagi berakhlak mulia
Tak pernah disentuh, sopan menundukkan mata
Penuh cinta dan selalu belia

Takjub terlihat wanita shalihah penghuni surga
Kulit putih dilapisi sutra dengan wajah bercahaya
Bersisir emas dan sanggul mutiara
Selalu mendampingi dan tak pernah tua

Namun manusia ternyata tak terlalu tergoda
Lantaran nikmat yang tak terlihat mata
Korbankan surga memilih dunia
Kaya harta menjadi cita-cita

Tak percayakah kau pada sang pencipta
Merasa curiga atau sekedar lupa
Cukuplah firman dan iman yang menjadi mata
Penghantar hamba tuk melihat surga

Sebagai manusia ku hanya bisa pasrah dan berdoa
Memohon ampun dan ridho sang penguasa
Karena satu hal yang ku yakini pasti
Setiap manusia pasti akan mati

Inspirasi dari Sang Menteri : Dedikasi Hidup untuk Pengabdian

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , No comments


                   

                   Judul Buku             : Tiga Kota Satu Pengabdian : Jejak Perjalanan Yahya A. Muhaimin
                   Penulis                   : Badruzzaman Busyairi 
                   Penerbit                 : Tiara Wacana
       Tebal Halaman       : 350 halaman
       Cetakan Pertama    : Mei 2012

“Anak luar biasa dari Dukuhturi ini membuat lompatan quantum sampai tiga kali dalam waktu relatif singkat. Sekali ketika ia sebagai teenager santri langsung mendarat di bible belt Amerika Serikat. Lompatan kedua dilakukannya dari UGM ke MIT. Yang benar-benar ajaib adalah lompatannya dari status dosen menjadi menteri. Sungguh pantas dibuatkan biografi.”
                                                                                                                    Nono Anwar Makarim

Jika selama ini anda  termasuk orang yang enggan untuk membaca buku biografi atau beranggapan bahwa membaca biografi tidaklah semenarik membaca buku lainnya, mungkin ada baiknya anda mulai mempertimbangkan ulang pemikiran anda tersebut. Buku biogafi yang berjudul “Tiga Kota Satu Pengabdian”Jejak Perjalanan Yahya A. Muhaimin merupakan salah satu contoh buku biografi yang kiranya dapat mengubah pemikiran anda tersebut. Badruzzaman Busyairi, penulis buku biografi ini, dengan apik menulis petualangan hidup seorang tokoh besar Indonesia, Prof. Dr. Yahya Abdul Muhaimin, seorang guru besar UGM yang juga merupakan mantan Menteri Pendidikan Nasional pada era pemerintahan Gusdur (1999-2001).
Dalam buku biografi ini, Badruzzaman Busyairi berhasil membawa pembaca hanyut dalam kisah kehidupan Yahya A. Muhaimin yang inspiratif, diantaranya dengan memahami tiga dimensi kehidupan Yahyayakni mulai dari perjalanan akademik, kehidupan sosial politik, dan atmosfer humanitasnya. Dengan bahasanya yang lugas dan mudah dimengerti, penulis membuat pembaca seolah-olah sedang  menikmati sebuah novel, lengkap mulai dari kisah lucu Yahya  saat masih berada di desa kecil Bumiayu, diselingi kisah romantis Yahya ketika bertemu dengan istrinya hingga lika liku perjalanan kariernya sampai beliau bisa menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional Indonesia pada era pemerintahan Gusdur. Yahya yang juga merupakan lulusan dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) Amerika serikat ini, tercatat telah sekitar 40 tahun mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan, tidak hanya di satu kota saja namun sekaligus di beberapa kota seperti Yogyakarta, Bumi Ayu (Jawa tengah) dan juga Jakarta. Mungkin Itu jugalah alasan mengapa buku ini diberi judul Tiga kota satu pengabdian.
Selain itu, di buku ini juga diceritakan bagaimana kisah persahabatan Yahya Muhaimin dengan Amien Rais yang tetap terjaga baik bahkan hingga akan mencapai 50 tahun pada tahun 2013 nanti. Buku ini juga menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kehidupan Yahya Muhaimin termasuk juga tuduhan plagiarisme kepadanya. Dibuku ini dikisahkan bagaimana Yahya dengan sabar menghadapi tuduhan plagiarisme atas disertasinya di MIT yang berjudul Indonesia Economic Policy , 1950-1980: The Politics of Client Businessmen. Untuk membersihkan nama baiknya, Yahya  melakukan korespodensi dengan pihak MIT, yakni Department of Political Science dan Dean of Graduate school, serta Committee on Academic Responsibility, dimana dalam kesempatan tersebut ia menjelaskan hal-hal yang dituduhkan hingga akhirnya disertasi Yahya dinyatakan acceptable dan catatan-catatan  klarifikasi dari Yahya dicantumkan sebagai bagian penyempurnaan dari disertasi tersebut.
Lebih jauh, melalui buku ini juga kita bisa sekaligus belajar mengenai perpolitikan Indonesia, misal mengenai dinamika pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid serta sejarah keterlibatan militer dalam politik. Bahkan, diakhir buku biografi terdapat ringkasan dari dua buah pemikiran dan gagasan Yahya Muhaimin yakni dari buku Bisnis dan Politik : Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia tahun 1950- 1980 yang merupakan hasil disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dari MIT, sedangkan satu lagi adalah ringkasan dari buku beliauyang berjudul Perkembangan Militer dalam Politik Indonesia 1945-1966. Buku itu  merupakan hasil penelitian skripsi beliau ketika S1 di HI UGM dan pernah mendapat penghargaan sebagai skripsi terbaik dari pihak almamater UGM pada tahun 1973. Untuk menulis skripsinya itu juga, selama kurang lebih dua belas bulan beliau  dengan tekun mencari literatur di berbagai tempat, mulai dari Yogyakarta, Bandung dan Jakarta, mengingat pada masa itu buku-buku ilmiah mengenai politik dan militer masih sangat terbatas.
Ketekunan seta konsistensi beliau dalam mengerjakan segala sesuatu nya inilah yang hendaknya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya sebagai seorang mahasiswa, calon pemimpin bangsa.Pengalaman Yahya A. Muhaimin saat menjadi mahasiswa yang tidak hanya pintar secara akademis namun juga aktif di berbagai organisasi, hendaknya dapat menjadi tauladan bagi para generasi muda saat ini. Walaupun begitu, seperti kata pepatah tidak ada sesuatu yang sempurna, begitu juga dengan buku ini. Dengan alur maju dalam penulisannya, penulis sebenarnya telah cukup baik menceritakan sejarah kehidupan Yahya A.Muhaimin ini dengan runut, hanya saja terkadang terjadi beberapa kali pengulangan informasi atau cerita sehingga dapat membuat pembaca menjadi jenuh. Terlepas dari itu, buku ini tetaplah merupakan suatu karya inspiratif yang kaya akan pembelajaran. Kisah hidup Yahya dengan berbagai tantangannya mulai dari masa kecil, mahasiswa bahkan hingga mencapai puncak karirnya kiranya dapat menjadi inspirasi bagi para mahasiswa Indonesia yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Jadi tunggu apa lagi, bagi anda yang ingin belajar  berbagai nilai kehidupan melalui pengalaman Yahya A. Muhaimin ini serta sekaligus mendapatkan pengetahuan terkait perpolitikan dan sejarah militer politik Indonesia, mungkin ini saat yang tepat bagi anda untuk segera membaca buku ini.*** (Ratu)

“ Setiap orang pernah berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang adalah orang yang berbuat kesalahan namun mau segera memperbaiki kesalahannya”

                                                                                                                      Yahya A. Muhaimin

Tulisan dibuat untuk mengisi  rubrik resensi buku di Buletin HMI komisariat Fisipol UGM

Senin, 22 Oktober 2012

Seputar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) : Dari awal kemerdekaan hingga Reformasi

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , , No comments


“ Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan”- Bediuzzaman Said Nur
Himpunan Mahasiswa Islam atau yang biasa disingkat HMI merupakan suatu organisasi mahasiswa yang dibentuk pada 5 Februari 1947 diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk di tingkat I. Lafran Pane merupakan seorang pemuda yang lahir di Sipirok Tapanuli Selatan, Sumatra utara. Pemuda lafran pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalisme muslim pernah mengenyam di pendidikan pesantren, ibtidaiyah, wusta dan sekolah muhamadiyah, Adapun latar belakang pemikiran dalam pendirian HMI adalah : "Melihat dan menyadari bahwa kehidupan manusia dan mahasiswa yang beragama islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memaham dan mengamalkan ajaran agamanya.” Selain itu, pada waktu itu, belum ada organisasi mahasiswa islam yang dapat menjadi wadah bagi persatuan mahasiswa Islam Indonesia untuk turut aktif berkonribusi bagi bangsa.

HMI berdiri pada saat Indonesia sedang berada pada awal kemerdekannya, maka organisasi ini turut aktif mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat. Pemikiran yang di usung oleh HMI antara lain mempertahankan NKRI dan juga  meningkatkan derajat rakyat Indonesia di dunia internasional, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.
Dalam Perkembangannya HMI mengalami berbagai fase, mulai dari perkembangan hingga tantangan seperti fase konsilidasi perkembangan spiritual (1946 - 1947), fase pengkokohan (5 febuari 1947 – 30 november 1947) yaitu selama kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa Sembilan bulan itu di pengaruhi untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu saling mengokohkan eksistensi HMI sehinga dapat berdiri tegak dan kokoh. Selanjutnya adalah fase Perjuangan Bersenjata (1947-1949) yakni seiring dengan tujuan HMI yang di gariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelangangan pertempuran melawan agresi yang di lakukan oleh belanda, membantu pemerintah baik memegang senjata bedil dan bamboo runcing, sebagai setaff, penerangan, penghubung. Selanjutnya adalah Fase pertumbuhan dan perkembangan HMI (1950-1963) yakni masa selama para kader HMI yang terjun ke gelengang pertempuran melawan pihak pihak aggressor, selama itu pula pembina organisasi terabaikan.namun hal seperti itu di lakukan secara sadar, karena itu semua meliarisir tujuan dari HMI sendiri serta dwi tugasnya yakni tugas agama dan tugas bangsa.
Fase tantangan (1964-1965) yaitu masa dimana HMI harus menghadapi tantangan ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan dendam sejarahnya begitu bersemangat ingin membubarkan HMI. Hingga akhirnya usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ini ternyata tidaklah menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi. Hingga pada puncak aksi pemberontakan PKI pada tanggal 30 september 1965 telah membuat PKI sebagai salah satu organisasi terlarang. Dan yang terakhir adalah Fase kebangkitan HMI sebagai pelopor orde baru (1966-1968) dimana HMI berperan sebagai sumber insani bangsa yang dimana turut melopori orde Baru.
Bahkan hingga saat ini HMI terus bertahan sebagai salah satu organisasi ekstra mahasiswa yang berada di berbagai universitas di Indonesia dan terus aktif melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat baik bagi anggotanya maupun bagi masyarakat luas, seperti dengan melakukan berbagai diskusi baik dalam intra maupun ekstra kampus, seminar-seminr yang melibatkan pihak pemerintah dan masyarakat, melakukan pembinaan terhadap masyarakat secara langsung seperti dengan kegiatan desa binaan, dan sebagainya. Di UGM sendiri, terdapat beberapa komisariat HMI sesuai dengan fakultas masing-masing, seperti komisariat FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), Komisariat FIB /(Fakultas Ilmu Budaya), Fakultas Tehnik dan sebagainya. Berbagai komisariat ini berada dibawah payung komisariat cabang, untuk UGM berada dibawah HMI cabang bulaksumur, Yogyakarta. Berbagai mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan ini secara aktif juga bersama-sama melakukan berbagai kegiatan seperti seperti diskusi dan aksi bersama, serta juga menjalin hubungan dengan cabang HMI  serta organisasi lainnya di berbagai universitas di Indonesia.


Sepanjang perjalanannya, HMI juga tentu saja telah banyak melahirkan berbagai tokoh penting di Indonesia antara lain seperti  Hidayat Nur Wahid, Akbar Tanjung, Munir SH, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin serta juga tokoh perjuangan yang membawa perubahan yang besar bagi Indonesia M. Amien Rais. Beliau merupakan sala satu tokoh yang berkontribusi cukup besar dalam menurunkan Rezim Soeharto yang otoriter serta membawa demokrasi yang lebih baik bagi bangsa Indonesia (orde reformasi). Saat ini merupakan giliran kita para mahasiswa generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan mereka. Perjuangan kita saat ini tidaklah seberat dahulu kawan. Kita tidak perlu lagi mengangkat senjata utuk mempertahankan kemerdekaan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan kita.  Oleh karena itu lah kita harus menghargai usaha mereka tersebut dengan terus belajar, meraih ilmu sebanyak-banyaknya, mengembangkan berbagai potensi diri, terus mencetak prestasi sehingga kedepannya kita dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia kita tercinta ini. Mahasiswa Indonesia bisa, Gadjah Mada Muda Bisa, Untuk Indonesia yang lebih baik. J (Ratu/Ravel)

HIDUP GADJAH MADA, HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!

Tulisan dibuat untuk mengisi rubrik sejarah HMI di Buletin Dialektika HMI Komisariat Fisipol UGM, September 2012.


MENCETAK KADER PENDAKWAH DI TUBUH HMI

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , No comments


        Judul kilasan di atas rasanya tepat untuk menggambarkan kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan  Koordinasi Nasional Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BAKORNAS LDMI-PB HMI). Kegiatan yang bertajuk Latihan Kader Dakwah (LKD) tersebut diadakan pada tanggal 11–15 Juli 2012 di Jakarta. Tujuan utamanya untuk mencetak kader-kader dakwah yang andal di tubuh HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang berazaskan Islam.
            Menurut Ketua BAKORNAS LDMI-PB HMI, Fahmi Dzikrillah, LKD tahun 2012 ini merupakan LKD angkatan pertama. Mengingat sejak 2003 aktivitas LDMI mengalami kematian yang berakibat pada kevakuman organisasi selama delapan tahun. Padahal jika dirunut LDMI boleh dikatakan sebagai salah satu lembaga yang menjadi anak panah di masyarakat bagi HMI. Sehingga pelaksanaan LKD selain untuk mencetak kader pendakwah juga sebagai upaya reeksistensi HMI di dunia dakwah Indonesia.
            Kegiatan ini sendiri sedikitnya diikuti oleh 37 orang anggota aktif HMI dan berasal dari 13 cabang, seperti : Cabang Aceh, Cabang Bangka Belitung, Cabang Tarakan, Cabang Ciputat dan Cabang Malang. Tiga orang di antaranya merupakan utusan Cabang Bulaksumur Sleman yaitu Pandu Septa, M. Irfan dan Ekamara A.P. Jika dilihat kuantitas peserta yang hadir, orang-orang mungkin pesimis akan kegiatan dan hasil dari LKD tersebut karena hanya 13 cabang yang hadir dari 100 cabang HMI di seluruh Indonesia.
            Namun secara kualitas pribadi maupun cabang, seluruh peserta LKD sangat memiliki kemauan dan kemampuan minimal yang cukup untuk menjadi kader pendakwah. Hal ini terlihat dari luasnya wawasan peserta tentang ilmu keagamaan, tingginya antusiasme peserta dalam setiap sesi tanya jawab dengan pemateri serta kemampuan menghubungkan permasalahan sosial masyarakat yang ada dengan wawasan keagamaan yang mereka miliki. Boleh dibilang mereka sedikit berbeda dari kader HMI sekarang yang kebanyakan berkutat pada bidang dan permasalahan yang bersifat politis.
            Sedianya, LKD akan dilangsungkan di Masjid Sutan Takdir Alisjahbana Kampus Universitas Nasional (UNAS) Jakarta Selatan. Tetapi karena terjadi insiden kecil yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkannya kegiatan maka pusat kegiatan dipindah ke Masjid Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat. Namun demikian semangat peserta tidak surut sedikitpun pasca kejadian, justru semakin kuat dan teguh untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dipilihnya masjid oleh panitia sebagai lokasi pusat kegiatan, bukan tanpa alasan. Sebab masjid dari zaman Nabi merupakan pusat aktivitas dakwah bahkan aktivitas sosial dan politik lainnya. Semangat dan ruh itulah yang coba ingin dilekatkan kepada peserta oleh panitia kegiatan.
            Selama kegiatan berlangsung, banyak hal yang dilakukan oleh peserta, seperti : menerima materi-materi yang menunjang aktivitas dakwah di masa depan, diskusi interaktif dengan pemateri, simulasi dakwah, forum diskusi, forum keakraban, kunjungan ke MUI Pusat, pelatihan ESQ, dan lain-lain. Semua rangkaian kegiatan tersebut tentunya merupakan penunjang bagi seluruh peserta untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kelompok dalam kegiatan dakwah di masa depan.
            Kegiatan-kegiatan tersebut semakin bergengsi dengan hadirnya pemateri-pemateri (alumni HMI) yang berkualitas pula dan berstandar nasional bahkan internasional. Sedikit pengakuan pribadi, bahwa sangat banyak alumni HMI yang berhasil dan sukses mencapai karir di bidangnya masing-masing. Pemateri-pemateri tersebut misalnya A.M. Fatwa (politisi dan tokoh reformasi) dan K.H. Amidhan (Ketua MUI Pusat). Perpaduan antara materi dengan pemateri yang sama-sama berkualitas tersebut semakin membuat para peserta yakin atas pilihannya untuk mengikuti LKD ini.
            Banyak hal yang didapatkan oleh peserta selama kegiatan LKD berlangsung. Mulai dari kenalan dan rekan baru, pengetahuan dan ilmu baru, bahkan sampai cerita dan pesan-pesan yang disampaikan oleh pemateri sebagai alumni HMI. Mengutip apa yang dikatakan oleh A.M. Fatwa, bahwa generasi muda sekarang terutama kader HMI tidak boleh sekali-sekali melupakan sejarah. Sebab dari sejarahlah kita dapat mengetahui kebaikan dan keburukan masa lalu, sehingga apa yang menjadi kesalahan masa lalu tidak perlu diulangi oleh generasi sekarang dan yang akan datang.
            Sementara K.H. Amidhan terlepas posisinya sebagai Ketua MUI Pusat, sangat mengapresiasi kegiatan LKD yang diadakan oleh BAKORNAS LDMI ini. Ia menyoroti perilaku kebanyakan kader HMI saat ini yang lebih condong dan dominan pada aktivitas kebangsaan. Sementara sangat minim dalam bidang keagamaan, padahal HMI memiliki tugas di bidang lain selain kebangsaan yaitu keagamaan. Oleh karena itu dengan adanya LKD ini setidaknya dapat menjadi salah satu bentuk HMI untuk kembali berkontribusi lebih aktif dalam bidang keagamaan.
            Pada akhirnya, kegiatan LKD yang diadakan oleh BAKORNAS LDMI bukan semata-mata untuk kembali menghadirkan LDMI sebagai salah satu lembaga di HMI yang sempat vakum selama delapan tahun. Namun sebagai upaya HMI secara besar untuk mencari dan mencetak kader-kader pendakwah demi kemaslahatan umat, bangsa dan negara. [Ekamara]

Tulisan dibuat untuk mengisi  rubrik "ulasan" di Buletin Dialektika HMI Komisariat Fisipol UGM, September 2012.

Kala Pers Mahasiswa Belajar Keberagaman

BY HMI Komisariat Fisipol UGM 2 comments

                                                                       dok pribadi

“laporan (tak) sekedar melapor, namun harus menjadi pelopor” 

Ah sial, sudah jam delapan pagi! Pasti akan telat, acaranya akan dimulai pukul sembilan nih!” marahku pada diri sendiri yang kadang tidak bisa berdamai dengan kedisiplinan. Aku memiliki agenda hari ini untuk mewakili HMI Komisariat FISIPOL UGM dalam mengikuti workshop pers mahasiswa yang di selenggarakan oleh Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) di Wisma MM UGM selama tiga hari kedepan. “ Pasti panitianya akan marah besar kepadaku,” omel ku. Lantas aku lekas bangun dan bergegas untuk mandi dan sholat dhuha. Matahari sudah mulai menampakkan eksistensinya untuk menerangi hari Jumat yang cerah. Ayam-ayam mulai berkokok mewarnai lalu-lalang kendaraan yang sudah mulai ramai di depan kos ku. “Aduh sudah jam setengah sembilan! Gawat!,” celotehku. Dengan bermodal sepeda butut bernama “blacky” yang selalu menemani aktivitas keseharianku, langsung ku kebut menuju ke wisma MM UGM yang terletak kurang lebih tiga kilo meter dari kos ku.
Ah, sampai juga akhirnya” ujarku. Waktu masih menunjukan jam Sembilan kurang 5 menit. Berarti aku belum telat. Langit yang cerah di wisma MM UGM pada hari itu serasa memberikan harapan untukku dalam mengikuti kegiatan ini. Lantas aku masuk dan bertanya kepada receptionis dimana acaranya akan dilaksanakan. “Oh, di lantai dua mas”, ucap seorang resepsionis cantik . Sesampainya dilantai dua aku kecewa dengan kondisi yang aku te,ukan. Ternyata belum ada partisipan dan panitia yang hadir. “Ah sial. Ini sudah waktunya namun belum ada siapa-siapa.” omelku. Yah, aku hanya bisa memaklumi saja. Toh, tidak hanya acara ini saja yang telat, namun anggota DPR saat rapat demi kepentingan rakyat pun sering telat, bahkan minim yang hadir. “ah mungkin benar yang dikatakan oleh Bang Yuri, bahwa watak orang indonesia sering tidak bisa menghargai waktu,dan hanya merpati yang bisa datang tepat waktu” batinku.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya acara dimulai pukul setengah 11. “Kalau seperti ini jadinya, mending kuliah dulu dan mengisi absensi!” batinku lagi. Memang pada hari itu aku sedang memanfaatkan kompensasi yang diberikan oleh dosen untuk tidak mengikuti sesi perkuliahan. Acara pun dimulai. Tema dari acara workshop pers kampus ini bertemakan “panduan memberitakan isu keberagaman”. Acara ini diselenggarakan oleh Sejuk yang bekerja sama dengan Beritasatu.com, Pers Mahasiswa Arena, Media Indonesia dan Friedrich Naumnan Shiftung (FNS).
Materi pertama diisi oleh seorang yang cukup tersohor di negeri ini, yakni Ulil Abshar Abdala. Ia adalah politisi partai Demokrat dan seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Ya, momentum sekali aku bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Tidak main-main, yang didiskusikan pada saat itu yakni tentang kebebasan beragama.  Ah, ini dia kesempatan untuk melihat pemikiran dari seorang dedengkot JIL itu dalam berbicara tentang kebebasan beragama.
Dalam mengawali diskusinya Ulil mengatakan bahwa kebabasan dalam beragama sudah tertuang dalam UUD di negara kita bahwa setiap warga negara berhak memeluk keyakinannya masing-masing. Namun Ulil berujar apakah dalam kebebasan beragama, bebas juga untuk menyebarkan agama. “Dalam konteks kebebasan agama, ini bisa dilakukan, namun pada prakteknya sulit terjadi,” ujar Ulil.  Ulil juga mengatakan bahwa agama itu semuanya adalah sama, sama-sama baik dan sama-sama memiliki jalan yang sama menuju surga. “Lantas jika semua agama sama, apakah diperbolehkan bagi kita untuk keluar dari islam dan memeluk agama lain?” Tanya seorang partisipan. “Agama islam itu sudah sempurna dan mencakup semuanya, jadi kenapa kita harus berpindah agama?” jawab Ulil. Selang tiga jam pun berlalu dan mengakhiri diskusi ini dengan tepuk tangan meriah.  
Materi lain juga disampaikan mengenai perempuan dan media yang diisi oleh editor The Jakarta Post Ahmad Junaidi. Laki-laki berjiwa feminis yang biasa disapa Bang Jun ini mengawali diskusi dengan melihat media yang pesat banyak menjadikan konten pornografi sebagai komoditas. “konten pornografi yang dimuat oleh media hanya mengejar profit,” ujar Junaidi. Menurutnya perempuan masih dibelenggu struktur patriarki dalam masyarakat. “media sering menjadikan badan perempuan sebagai pemberitaan, bukan pemikirannya,” jawabnya. Media-media di Indonesia banyak tidak berpihak pada kaum perempuan dalam beritanya. Junaedi mengutip pernyataan Ashandi Siregar bahwa dalam pers pun banyak wartawan laki-laki dibanding perempuan. Sehingga dalam menulis berita didominasi oleh laki-laki yang seringkali tidak memiliki kesadaran gender.
Akhirnya materi yang ku ditunggu-tunggu datang juga. Yakni materi diisi oleh seorang dosen komunikasi Universitas Indonesia Ade Armando. Dosen berkacamata itu membahas mengenai kiat-kiat peliputan berita tentang keberagaman. Dosen yang lumayan humoris ini selalu membuat jalannya diskusi selalu diselimuti candaan yang menghibur. Ade melihat media massa di Indonesia kini hanya sebagai bisnis semata. “rating menjadi penting karena adanya penguasa modal yang meninginkan profit” ujar Ade.  Salah satu tips yang diberikan ade bahwa wartawan itu harus meninggalkan konsep “bad news is good news” dalam peliputan. “Jadilah wartawan perdamaian, bukan wartawan yang mengabarkan konflik saja,” jawabnya. Ade mencontohkan bahwa wartawan pasti akan meliput jika ada konflik atau ada demonstrasi ‘bakar-bakaran’ saja. kadang kala orang-orang kecil yang tidak memiliki power seringkali tidak disorot oleh media. Mereka sangat rentan diskriminasi dari orang –orang yang memiliki power. Oleh sebab itu ade juga meminta selain berpihak pada kebenaran, wartawan juga harus berpihak pada kaum-kaum yang lemah ini.
                        Acara workshop yang diikuti 25 perwakilan pers mahasiswa yang berasal dari Yogyakarta, Palembang, Makassar, Salatiga, Malang, Cirebon dan lainnya ini  memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Pondok Pesantren khusus waria yang berada di daerah Notoyudan Yogyakarta.  Waktu menunjukan pukul tiga sore. Hujan rintik-rintik mulai menemani kunjungan ke pondok pesantren yang diberi nama ‘Al-Fatah Senin-Kamis’ itu. Kami dibagi menjadi lima kelompok untuk latihan meliput di pondok pesantren tersebut dan menulisaknnya dalam bentuk Feature.
               Berawal dari kesulitan kelompok waria, gay, dan lesbian  memiliki tempat ibadah,  Bunda Maryani berusaha mendirikan pondok pesantren khusus waria sejak tahun 2008 silam. “saya mendirikan untuk bekal nanti di akhirat mas” jawab Maryani. Ia memiliki rambut panjang tertutup kerudung cantik berwarna merah dengan hidung yang mancung. Meski sudah muncul keriput di sana-sini, Maryani masih terlihat energik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peserta. Pondok pesantren ini memiliki kegiatan seperti pengajian, belajar Al-Qur’an, belajar sholat dan bakti sosial rutin diselenggarakan. Menjadi seorang waria jelas tidak dikehendaki setiap orang. Seringkali kaum transgender mendapat perlakuan diskriminatif dari berbagai pihak. Maryani mengatakan masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan belum diakui secara penuh keberadaannya.
             Setelah itu, malamnya para partisipan memiliki kesempatan untuk menulis berita yang telah didapat saat berkunjung ke Pondok Pesantren Waria. Dengan menggunakan gaya penulisan feature dan diampu oleh Ahmad Junaidi. Penulisan jenis ini menurut Bang Jun seperti menulis narasi yang memberikan informasi. Aku sendiri memang sedang giat-giatnya belatih gaya tulisan feature ini. beruntung dalam acara ini bisa dilatih oleh jurnalis sekelas Ahmad Junaidi yang mau berbagi teknik-teknik penulisannya.
            Ah, tak terasa sudah hari Minggu saja. Jam sudah menunjukan  jam 12 siang. Sebentar lagi acara akan berakhir dan pertemuan ini harus diakhiri. Cukup banyak pelajaran, perspektif, dan pengalaman dari orang-orang hebat di bidang media dan aktivis keberagaman datang ke kepalaku. Belum lagi partisipan yang sudah banyak ku kenal dekat. Kita memang tidak minta untuk dipertemukan, namun takdir sudah mempertemukan kita dan menjadi keluarga baru. Itulah pertemuan, meski singkat, namun berbekas dan terus terkenang.  
            Pesan yang bisa ditarik dari kegiatan luar biasa selama tiga hari ini bahwa peranan wartawan khususnya pers kampus dalam meliput segala berita tentang kelompok-kelompok minoritas seperti gay, lesbian, homoseksual, waria, Ahmadiyah, GKI Yasmin dan lainnya harus memiliki keberpihakan terhadapnya. Mereka harus didengar suaranya karena mereka adalah manusia sama seperti kita. manusiakanlah manusia sebagaimana mestinya, jangan ada pembeda diantara kita. Karena kita adalah sama. Sama-sama makhluk Tuhan Yang Maha Esa [Ramadhan Rizki Saputra].





Kamis, 14 Juni 2012

Kepengurusan Periode 2012/2013

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN

Kepengurusan Periode 2012/2013


Ketua Umum

Fauzan N.R.

Sekretaris Umum 
Intan Maliza
 
Bendahara Umum
 Tri Suci Kamalia
 
 
Kepala Bidang Pembinaan Anggota (PA)
 Eenriani Oktari
 
 Wakil Bidang Pembinaan Anggota (PA)
Nindya Anis Arum Sari

Kepala Bidang  Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
 Ratu Humairoh Balqis

 
Wakil Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) 
Ekamara Ananami Putra
 
Kabid PTKP
 Ramadhan Rizki Saputra

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan (PP)
Michiko Mokodompit

Wakil Bidang Pemberdayaan Perempuan
 Adistiarah W.
 
Kepala Bidang Kewirausahaan 
Dika Yulianawati