Jumat, 18 November 2011

Sultan pertanyakan gerakan pendukung Pilkada

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN No comments


YOGYAKARTA: Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mempertanyakan kemunculan gerakan pro pemilihan yang marak beberapa waktu terakhir.
Sultan mengaku heran kenapa gerakan mendukung pemilihan baru muncul belakangan setelah momen Pemilihan Walikota Jogja selesai dan di saat pembahasan mengenai penetapan di DPR mulai mengerucut.
“Anehnya kenapa tidak dari dulu itu yang saya tanyakan, kenapa setelah Pilkada, kalau dari dulu kan bisa dibahas bersama-sama dengan Panja,” ujar Sultan tadi.
Namun dirinya mengaku tak tahu menahu apakah ada keterkaitan antara kemunculan aksi tersebut dengan Pemilihan Wali kota Joga beberapa bulan lalu. “Saya enggak tahu soal itu, makanya saya tanya kenapa baru sekarang muncul,” tuturnya.
Sultan menganggap kemunculan aksi tersebut merupakan hal yang biasa karena merupakan hak asasi dan aspirasi setiap orang. “Enggak masalah, itu kan aspirasi setiap orang,” katanya. Terkait peluang opsi penetapan lolos dalam RUUK DIY dikatakannya tergantung pembahasan DPR dan belum dapat dipastikan.
Terpisah, HMI Fisipol UGM hari ini menggelar diskus bertemakan Menakar Bentuk Keistimewaan Yogyakarta Dalam Kerangkan NKRI : Testimoni Alfian Dharmawan dan KPH Anglingkusumo di Wisma KAGAMA.
Alfian Dharmawan yang merupakan calon Gubernur DIY yang besaing dengan HB X pada 1998 silam mengisahkan pengalamannya saat itu. Menurutnya pecalonan dirinya berdasarkan proses demokratisasi di mana setiap orang berhak dicalonkan.
“Saat itu juga tengah reformasi, saya dicalonkan oleh PPP yang kami tuntut adalah proses demokratisasi, supremasi hukum dan pemulihan ekonomi dan tidak masalah saat itu,” ungkapnya.
Sementara KPH Anglingkusumo juga menceritakan saat dirinya dicalonkan sebagai Wakil Gubernur DIY pada 2001. menurutnya dahulu isu pemilihan tak bergejolak seperti sekarang, sedangkan dirinya maju dicalonkan untuk memenuhi tuntutan konstitusi.
Ketua Panitia diskusi dari HMI UGM, Yuri Ashari mengatakan, pihaknya hanya ingin memberi pencerahan kepada masyarakat soal isu pemilihan dan penetapan, agar saat menentukan pilihan punya dasar yang tepat.
“Selama ini memang banyak yang memilih penetapan tapi apa mereka tahu persoalan sebenarnya. Kami sendiri lebih pada proses demokrasi di mana setiap orang berhak dicalonkan menjadi Gubernur,” ungkapnya.(Harian Jogja/Bhekti Suryani/Dot)

Rabu, 16 November 2011

Opor Rasa Demokrasi

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN No comments

Oleh : Niccolo Attar


Bagi mahasiswa, praktek berdemokrasi ternyata tidak hanya dapat diperoleh melalui Pemira, atau bagi kader HMI tidak hanya melalui RAK atau Konfercab. Dalam hal memasak ternyata kita juga bisa belajar berdemokrasi. Setidaknya itulah yang terjadi malam minggu sebelum Idul Adha 2011 di sekretariat HMI. Sebenarnya memasak merupakan kegiatan yang biasa (buat yang biasa masak). Namun di HMI kegiatan memasak menjadi ajang pertarungan ide-ide dan kelompok kepentingan. HMI memang dikenal sebagai organisasi yang kental suasana politisnya. Banyak tokoh partai politik nasional yang dulunya merupakan kader HMI. Tidak mengherankan jika kegiatan memasak pun dikaitkan dengan politisasi.

Kejadiaannya bermula ketika anak-anak sekre HMI yang hampir semua jomblo berniat memasak opor ayam dan sambal ketang untuk disantap saat Idul Adha. Bahan-bahan memasak sudah disiapkan sejak sore hari. Berbekal resep yang entah dari mana asalnya dibantu google untuk memastikan validitas resepnya, kegiatan memasak pun dimulai.
Hampir semua anggota yang ada di sekre yakni Angga, Dede, Pandu, Vebi, Yoga, Agung, dan Intan lalu disusul Uci yang baru selesai pacaran (kayaknya Cuma dia yang punya pacar.Penting g sih?) bahu membahu mempersiapkan bahan, mulai dari mencuci, mengupas, mengulek, memarut sampai memasak. Saya sendiri mengambil peran mengupas bawang, kentang, kelapa parut, dan meracik bumbu. Biar lebih praktis sebenarnya bisa aja beli bumbu jadi atau yang instan-instan apalagi tidak ada yang bisa masak. Tapi ada yang bilang “kurang esensinya” (siapa ya?).
Semua berjalan tenang tanpa “gejolak” yang berarti. Sebenarnya saya sudah agak ribut sewaktu memasak sambal kentang. Uci “bereksperimen” menggarami kentangnya sebelum digoreng. Menurut saya kentangnya nggak usah digarami, nanti hasilnya keasinan, karena bumbunya juga sudah diberi garam. Benar saja, masakannya keasinan di kentangnya dan kepedasan di bumbunya (ini karena saran buat nambah cabe rawit.Siapa ya?).
Kericuhan baru terjadi ketika mulai memasak opor. Pertama karena bingung tidak ada saringan buat meras santan. Semua yang ada di dapur sahut-sahutan memberi usul, ada yang usul pake tissu (Pandu), ada yang usul pake alat buat nyaring minyak (halagh lupa namanya. Agung), ada yang usul pake kaos sisa seminar (itu saya). Usul saya ditentang, jorok katanya (ya, kan gal apa2, yang lain kan g tau, hehe). Semua ribut dengan segala argumentasinya masing-masing. Akhirnya Dede Chairuddin Fahmi dan Tri Suci Kamalian duet Abang-adik pemarut dan pemeras santan memutuskan memilih penyaring minyak walau lubangnya agak besar. Mereka bekerja sambil saling curhat masalah keluarga dan menjadi tontonan. Masalah santan pun selesai, walaupun saya heran, kenapa santan kental dan encer dipisah ya? Padahal kalo dah masuk panci ya sama aja jadinya (tanya uci).
Anak-anak sebenarnya sudah agak kesel sama saya karena cerewet dan banyak komentar. Saya dianggap “menghegemoni” acara memasak bersama. Ada yang bilang saya berisik dan cerewet (siapa ya?). Bahkan memberi gelar sebagai “quality control” (siapa ya?). Biarlah, saya menganut pepatah “anjing menggonggong, masak jalan terus”.
Perdebatan terakhir pada teknik memasak opor, diresep tertulis kalo ayamnya digoreng dulu setengah matang. Tapi saya tidak pernah makan opor yang ayamnya digoreng dulu. Uci paling ngotot kalo ayamnya harus digoreng dulu. Saya sendiri juga ngotot kalo ayamnya g usah digoreng dulu. Perdebatan berlangsung seru. Semua ambil suara. Ada yang bingung, ada yang cari alternatif lain. Angga misalnya menelpon salah seorang senior perempuan mencari kepastian. Karena tidak tercapai titik temu akhirnya ada yang bercanda mengusulkan voting. Sambil terus ngotot dan menghegemoni saya juga setuju kalo harus voting. Akhirnya opor dimasak tanpa menggoreng ayam terlebih dahulu. Wacana voting terus menjadi andalan. Bahkan ketika memutuskan mau diapakan potongan ayam yang tidak muat masuk panci. Mau direbus, digoreng, dikukus, atau diformalin. Karena jika tidak diapa-apain besok pasti sudah busuk.
Begitu deh akhirnya kalo orang-orang yang tidak terbiasa masak berkumpul dan mulai memasak. Apalagi di HMI, semua dipolitisasi sampai harus ada mekanisme voting segala. Seru dan lucu pokoknya.
Besok paginya selepas salat Ied Pandu mencoba masak opor lagi. Kali ini dengan bumbu yang sudah jadi. Mungkin dia masih penasaran sama masak memasak. Tapi ketika dihidangkan ternyata Opor hasil kekisruhan dan voting lebih diminati. Opor rasa Demokrasi (dari anggota HMI, oleh anggota HMI, dan untuk anggota HMI)memang beda sih rasanya dengan opor bumbu jadi, “Esensi”nya dapet banget (apaan sih?).

Sumber : http://tgkattar.wordpress.com/2011/11/08/opor-rasa-demokrasi/

HMI merupakan Organisasi Perkaderan Terbaik

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , No comments

HMI Merupakan organisasi mahasiswa islam tertua di Indonesia, perjalanan organisasi yang sudah kurang lebih setengah abad, tepatnya 64 tahun sejak berdirinya pada tanggal 5 Februari 1947 merupakan organisasi yang memiliki produktivitas perkaderan terbaik di negeri ini, perkaderan merupakan fokus utama dalam organisasi HMI, Tak sedikit sumbangsih yang diberikan organisasi ini kepada negeri semenjak terbentuknya hingga sekarang.

Perkaderan yang sistematis dimulai dari LK 1 (Basic Training), LK 2 (Intermediete training), LK 3 (Advance Training) menjadikan karakter kepemimpinan yang kuat pada kader-kader himpunan, perkaderan tersebut mampu membentuk kompleksitas kompetensi dalam diri kader HMI, selain bisa mengatur negara kader HMI juga mampu mengerjakan suatu hal yang prakPtis dan sekecil apapun, pembinaan anggota dari LK 1 yang notabene menjadi dasar perkaderan membentuk jiwa kemandirian dalam berbagai hal, penyelenggaraan kegiatan-kegiatan hampir semua dilaksanakan dengan pendanaan yang serba terbatas, dan kader HMI di tuntut untuk mampu berjuang menyukseskan kegiatan tersebut, LK 2 merupakan pertrainingan yang menitik beratkan pada aspek kepemimpinan, kader HMI yang sudah masuk dalam intermediet training memiliki kemampuan dalam mengelola sebuah organisasi, dan advance training LK 3 merupakan pertrainingan yang menitikberatkan pada segala aspek kehidupan (multi intelgence) sehingga kader yang sudah masuk dalam pertrainingan ini mampu mengelola , menjalankan, dan mengotimalkan sebuah organisasi.

Kader HMI saat ini telah menguasai berbagai lini kepemimpinan bangsa di negeri ini, sebagai contoh Semua calon Ketua Umum Partai Demokrat pernah menjadi aktivis organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain Anas Urbaningrum yang memang pernah jadi Ketua Umum HMI, dua calon lainnya juga aktivis di HMI meski tak sampai pucuk pimpinan level nasional.

Andi Mallarangeng, misalnya, pernah menjadi Sekretaris Komisariat Fisipol HMI Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sedangkan Marzuki Ali juga pernah menjadi anggota Komisariat HMI Jakarta Timur. Andi Mallarangeng kini Menteri Pemuda dan Olahraga, Marzuki Alie menjadi Ketua DPR, dan Anas Urbaningrum menjadi Ketua Fraksi Demokrat DPR.

Itu sebabnya, mantan Ketua Umum HMI Akbar Tandjung yang kini Ketua Dewan Pembina Partai Golkar menepis tudingan soal HMI atau korps alumni HMI berada di belakang Anas Urbaningrum.

"Tidak ada rencana maupun rekayasa politik atas pencalonan Anas Urbaningrum di Partai Demokrat. Apalagi ingin mempengaruhi dan mencampuri Partai Demokrat dalam memilih ketua umumnya," bantah Akbar Tanjung saat ditanya Kompas di Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Akbar menganggap, majunya Anas adalah murni kapasitas Anas, kontribusinya di Partai Demokrat selama ini juga komitmen Anas yang ingin membangun Partai Demokrat menjadi partai modern.

Akbar menepis tudingan adanya dukungan dana dari dirinya dan mantan kader serta pengurus HMI/KAHMI lainnya untuk membantu Anas. Katanya, memang ada kesamaan dan ikatan emosional karena pernah bersama-sama di HMI, tetapi tidak ada dukungan seperti itu.

Soal dukungan terhadap Anas, Akbar menyatakan, dirinya juga mendukung seperti mendukung Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie yang pernah sama-sama menjadi alumni HMI. "Wajar kalau saya mendukung Anas, Andi, dan Marzuki. Sebab, mereka sama-sama HMI juga," katanya. 

Sumber: 
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/self-publishing/2180808-hmi-organisasi-terbaik-dalam-mencetak/

Anas Urbaningrum “Underdog” Sejak di HMI

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , , No comments

oleh : Jarot Doso Purwanto


SAYA mengenal Anas Urbaningrum sejak tiga belas tahun lalu. Ketika itu saya sebagai wartawan yang meliput kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta. Entah bagaimana awalnya, melihat Anas sebagai kandidat ketua umum PB HMI yang santun, intelek, tapi bermodal pas-pasan, tiba-tiba muncul solidaritas kalangan wartawan untuk membelanya dalam ajang kongres itu.

Sementara para pesaing Anas ada yang dibeking pengusaha, pejabat, bahkan sejumlah jenderal aktif Orde Baru. Mungkin karena sifat dasar wartawan yang gemar memihak “underdog” (mereka yang lemah atau tertindas), ditambah karakter perlawanan mereka terhadap rezim Orde Baru waktu itu, membuat hampir semua wartawan media massa berdiri di belakang Anas.

Paling tidak, ada tiga wartawan media cetak nasional yang bergabung, yang masih saya ingat namanya. Mereka adalah Elly Rosita dari Kompas, Sururi dari Jawa Pos, dan saya sendiri dari Republika. Di luar itu, masih ada dari Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Yogya PosSuara Pembaruan, dan sebagainya. Kebetulan saya dan Elly sama-sama pernah bergabung di HMI, sehingga terpanggil ikut menjaga HMI dari intervensi kekuatan luar yang terlalu jauh. Elly mantan Wakil Bendahara PB HMI, sementara saya pernah memimpin HMI Komisariat Fisipol UGM.

Bahkan, menjelang pemungutan suara untuk memilih ketua umum PB HMI yang baru, kami para wartawan berbagi tugas: sebagian melakukan pengawalan secara fisik terhadap Anas, guna mengantisipasi ancaman penculikan oleh tim sukses pesaing. Sisanya mengawasi segala kemungkinan yang bisa terjadi di ajang kongres. Dan kami bergerak atas inisiatif sendiri, tanpa dibayar atau diperintah oleh tim sukses Anas. Justru kadang-kadang tim sukses Anas yang mengikuti arahan dari tim wartawan.

Pengawalan dilakukan dengan cara Anas dipagar betis para wartawan di lokasi kongres. Bahkan ketika tidur pun, kami haruskan Anas berada di dalam lokasi kongres, dengan dikelilingi para kuli tinta. Ini kami lakukan karena kami yakin, pihak kompetitor Anas akan pikir-pikir dua kali jika berani menculik Anas secara terang-terangan di hadapan wartawan. Kami bersama-sama tidur di lantai keramik, di teras gedung tempat kongres, hanya beralas koran atau tanpa alas apa pun.

Maklum, kongres HMI sejak dulu dikenal acap berlangsung panas, sering dihiasi baku hantam, bahkan gelas dan kursi tak jarang beterbangan di ruang kongres. Termasuk adanya aksi sabotase atau menculik kandidat lain untuk sementara waktu, agar ia tidak bisa ikut pemilihan ketua umum dan otomatis tidak terpilih. Walhasil suasana kongres HMI di Yogyakarta waktu itu juga demikian, terutama menjelang pemilihan ketua umum PB HMI.

Sementara saya sendiri, akibat dianggap terlalu memihak Anas (padahal faktanya memang demikian hahaha), sampai-sampai kantor Republika biro Yogyakarta yang terletak persis di depan lokasi kongres beberapa kali didemo. Pelakunya siapa lagi jika bukan massa HMI pendukung saingan Anas. Bahkan nyaris saja perwakilan kantor saya itu akan dibakar massa. Gara-garanya, berita saya yang dimuatRepublika, menyebut Anas sebagai kandidat ketua umum PB HMI “yang semakin bersinar.”

Tambahan kata-kata yang beropini dan memihak Anas terang-terangan itu sebetulnya bukan ulah saya. Itu hasil perbuatan redaktur saya, seorang alumni HMI, yang juga mendukung Anas. Apa yang saya lakukan sendiri tidak sejauh itu, dan masih dalam batas-batas etika jurnalistik.

Tapi apa boleh buat, karena yang menambahkan redaksi dan tanpa memberi tahu saya sebelum naik cetak, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Meski akibatnya sayalah yang harus menanggung, karena dituduh sebagai wartawan yang “tulisannya beropini dan tidak netral”. Saya pun sejak itu harus main petak umpet dengan massa pendemo yang mencari-cari saya.

Namun, di luar urusan berita, waktu kongres HMI itu saya akui bahwa saya ikut berpolitik. Saya terus mendesak yunior saya di HMI Cabang Bulaksumur untuk konsisten mendukung Anas. Bahkan, bersama mereka, saya ikut aktif melobi pengurus cabang HMI lainnya untuk mendukung Anas.
Saya menyadari, hal itu seharusnya memang tidak boleh dilakukan kaum jurnalis yang mestinya netral. Hanya konteks perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Barulah yang membuat saya bisa membenarkan tindakan saya itu.

Berusaha Dijegal
Sebagai kandidat ketua umum PB HMI, posisi Anas tidak diunggulkan kala itu. Beberapa cabang HMI yang sejak awal mengusungnya juga bukanlah cabang besar atau cabang utama. Seingat saya, pengusung awal Anas dulu adalah HMI Cabang Purwokerto, HMI Cabang Bulaksumur Sleman (UGM), dan HMI Cabang Solo. HMI Cabang Bulaksumur ini masih berusia muda, sebagai hasil pemekaran HMI Cabang Yogyakarta, sehingga belum begitu diperhitungkan.

Kekuatan Anas baru bertambah mantap ketika mendapat dukungan Saan Mustofa, yang seingat saya waktu itu Ketua HMI Badan Koordinasi (Badko) Jawa Barat. Saan Mustofa, kini anggota DPR RI, inilah yang sekarang menjadi juru bicara tim sukses Anas dan berhasil mengantarnya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Hal ini seperti mengulang sukses sebelumnya. Karena pada 1997, Saan Mustofa dkk yang  didukung kalangan wartawan, berhasil mendudukkan Anas sebagai Ketua Umum PB HMI. Tim sukses Anas lainnya waktu itu adalah Dwiki Setiyawan, yang sekarang menjadi senior saya di Kompasiana.

Dan, seperti ketika mencalonkan diri sebagai ketua umum PB HMI, posisi Anas sewaktu mencalonkan diri sebagai kandidat ketua umum Partai Demokrat sekarang pun tidak mendapat dukungan keluarga Cikeas, sehingga sempat tidak diunggulkan oleh para pengamat, alias dianggap “underdog”.

Nah, salah satu peristiwa dramatis yang selalu saya ingat dari ajang kongres HMI di Yogyakarta tersebut ialah adanya upaya cukup kasar untuk menjegal Anas. Hal ini terjadi tak lama setelah dimulainya penghitungan suara pemilihan ketua umum PB HMI. Ketika itu tiba-tiba saja listrik padam dan ruangan kongres gelap gulita.

Sejenak kemudian kami, para wartawan, yang berada di dekat kotak suara melihat sosok berkelebat mengambil kota suara dan membawanya lari ke arah belakang gedung. Suasana pun menjadi sangat gaduh. Kami ikut berteriak-teriak memprotes tanda-tanda kecurangan yang mencolok mata ini. Kami menduga, isi kotak suara telah dimanipulasi selama dibawa lari, dan hal itu sengaja dilakukan untuk menjegal Anas, karena Anas sementara terlihat unggul dalam penghitungan suara.

Para wartawan pun berembug. Saya, Elly, Sururi, mewakili tiga media nasional utama, sepakat akan memboikot atau mem-blackout liputan terhadap kongres HMI jika pemungutan suara untuk memilih ketua umum PB HMI tidak diulang. Para wartawan yang lain mendukung. Panitia pelaksana kongres pun keder juga menerima ancaman koalisi media massa. Pemungutan suara akhirnya diulang kembali, dan hasil akhirnya Anas menang dengan perbandingan suara yang jauh meninggalkan kompetitornya.

Begitulah sekelumit kisah saya tentang Anas sewaktu ia masih aktivis mahasiswa. Setelah itu, saya bertahun-tahun tidak bertemu dengan Anas, karena saya meninggalkan Jakarta dan pulang ke Yogya untuk meneruskan studi S2 di UGM. Beberapa waktu lalu, seusai Anas dilantik sebagai anggota DPR RI, saya tak sengaja bertemu lagi dengan sosok kalem itu di pintu lift Gedung Nusantara I DPR RI.

Syukurlah, meski sekian lama tidak bertemu, ternyata Anas masih ingat saya. Anas juga masih ramah seperti dulu, kendati sekarang ia menjadi anggota dewan, bahkan memimpin Fraksi Partai Demokrat, fraksi terbesar di DPR. Maka, setelah bertukar kabar sejenak, Anas berujar kepada saya, “Mampir ke ruangan saya, Mas,” katanya.

“Insya Allah,” jawab saya. Namun hingga sekarang saya belum sempat bersilaturahmi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, saya bisa berkunjung ke ruangannya, memenuhi janji saya untuk bertandang. Sebab janji adalah utang.

Akhirulkalam, selamat Bung Anas Urbaningrum. Buktikan kaum muda mampu mengawal masa depan bangsa! []