Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2016

Mitologisasi Gie

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , , , No comments



Berawal dari ketidaksengajaan saya membeli dan membaca Tempo edisi 10-16 Oktober : Gie dan surat-surat yang tersembunyi. Sembari membacanya di bus Transjogja saya melamunkan sosok Gie ini. Melamunkan sesuatu yang sepi dan lebih reflektif diantara hiruk pikuk Pilkada DKI.
Pikiran saya melayang tentang buku catatan seorang demonstran. Emm.. bukan karena itu buku pemberian seseorang, tapi ceritanya dan sosok Gie ini begitu membekas di hati saya, apalagi ditambah dengan menonton filmnya. Yap, saya jadi bisa memvisualisasi sosok Gie sebagai role model aktivis mahasiswa yang sampai saat ini masih bisa kita telusuri jalan pemikirannya.
Tapi bagaimana kalau sejarah bisa diputar balik. Seandainya dulu Gie tidak jadi berangkat ke Semeru dan tidak pernah ada tragedi gas beracun di kawah mahameru? Tentu ceritanya akan lain. Bisa jadi Soe Hok Gie bukanlah tokoh yang masih dipuja-puja sebagai aktivis eksponen angkatan 66 yang begitu legendaris seperti sekarang. Bisa jadi sama nasibnya seperti eksponen angkatan 66 yang lain, seperti Sofian Wanandi, Cosmas Batubara, Mar’ie Muhammad yang berada di pusaran kekuasaan. Yah, mungkin bisa juga tidak, melihat kecenderungan dari Gie untuk berkiprah di dunia akademik seperti kakaknya.
Benar kata sebagian orang bahwa “orang baik itu mati muda” namun bukan dalam artian sebab karena baik lalu bisa membuat mati muda. Dalam sejarah tokoh Indonesia kita mengenal orang-orang yang menokoh karena mati muda, Soe Hok Gie di umur nyaris 27 tahun, Chairil anwar juga di usia 27 tahun, Ahmad Wahib di usianya yang ke-30 dan R.A. Kartini 25 tahun.
Perginya jasad duniawi dalam usia yang singkat ternyata tidak serta merta mengakhiri usia kesejarahannya. Beruntung Gie adalah seorang yang produktif menulis sejak usia 15 tahun, memang buah tidak jauh dari pohonnya, karena ayahnya Gie juga merupakan seorang penulis roman. Sehingga dengan berbekal peninggalan tulisan-tulisannya itu kita bisa ‘merasakan’ kehadiran sosoknya saat ini.
Selubung mitos kematian Gie yang cepat itu membuat dirinya diselimuti kabut mitos. Pengamat politik Eep Saefulloh Fatah pernah menulis tentang budaya mitos tahun 1999. Beliau menceritakan bagaimana budaya mitos masih berkembang dan cenderung berbahaya di Indonesia. Maka disini saya meminjam istilah mitos dan historis dari Pak Eep.
Mengenali Gie dari tulisan-tulisannya membuat kita berimajinasi tentang sosok yang sangat personal. Setidaknya itulah yang saya bayangkan dulu ketika membaca tulisan-tulisannya. Dalam majalah ini diceritakan produser film Gie, Mira Lesmana yang begitu tergila-gila pada sosok Soe Hok Gie sejak membaca catatan seorang demonstran. Buku yang telah dibacanya berulang kali sejak usianya 21 tahun itu membentuk fantasinya tentang sosok Soe Hok Gie yang dingin dan tidak banyak omong. Ia membayangkan Gie adalah sosok yang gampang membuat perempuan ‘meleleh’ dengan puisi cinta dan buku hariannya. Imajinasi inilah yang ditampilkan dalam sosok Rangga. Namun ketika melakukan riset untuk mengetahui sosok Soe Hok Gie secara utuh ternyata membuyarkan fantasinya tentang sosok Gie, ternyata Gie adalah anak yang gaul dan suka bercanda.
Itu adalah gambaran kecil betapa selabut mitos itu bisa menokohkan sosok Gie dan menyelamatkannya dari realitas historis kehidupan. Tabir mitos menutupi sosok Gie sehingga kita tidak mengenalnya banyak secara historis kecuali melalui kerabat, sahabat dan catatannya. Dari catatan hariannya-lah imajinasi tentang Sosok gie kita kenal dari mengesankan bahwa dia adalah orang yang idealis dan konsisten di zamannya.
Mitologisasi
Contoh mitologisasi lain adalah Soekarno. Dalam catatan harian Gie betapa jelasnya konteks sejarah Indonesia yang berada dalam titik nadir. Kondisi dimana kesulitan ekonomi dan orang-orang kelaparan ada dimana-mana. Bahkan dalam catatannya Gie menulis “siang tadi aku bertemu dengan seseoarang tengah memakan kulit mangga.. dua kilometer dari sini ‘paduka’ kta mungkin sedang tertawa dan makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik”.
Bagi orang-orang yang hidup pada zamannya Soekarno adalah seorang tokoh historis dengan segala kebesaran dan ke-otoriterannya. Adnan Buyung Nasution melalui desertasi doktoralnya mendokumentasikan sosok historis Soekarno sebagai pemotong demokrasi konstitusional dan pendiri otoritarianisme bermerek demokrasi terpimpin (Fatah, 1999) . Akan tetapi di mata anak-anak generasi millennial yang baru melek politik Soekarno dikenal dari sosok mitologisnya. Seokarno menjadi bapak demokrasi dan Ia membesar dengan selimut mitos yang membungkusnya.
Mitos itu bisa jadi diperlukan bisa juga menjadi sangat berbahaya. Diperlukan contohnya ketika mitos bisa menjadi acuan ideal atau role model . Tapi mitos bisa menjadi berbahaya ketika sosok begitu dikultuskan dan dijadikan aset politik.
Pemimpin yang terbaik menurut pribadi penulis adalah yang paling kita kenal secara historis. Bahasa lain daripada ini adalah track record-nya. Memilih pemimpin tidak seperti memilih kucing didalam karung. Apalagi menggunakan justifikasi mitos tertentu. Membangun sisi historis yang terbaik dan ideal membutuhkan waktu dan konsistensi yang panjang, Karena tidak semua orang bisa melalui hal tersebut maka itu menjadi standar tertentu dari pemimpin. So, selamat memilih-milih pemimpin.
Terakhir semoga Almarhum tenang di alam sana. Gejayan, 13 Oktober 2016
Ditulis oleh Faizal Akbar (Ketua HMI Fisipol UGM 2015/2016)

Senin, 22 Oktober 2012

Seputar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) : Dari awal kemerdekaan hingga Reformasi

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , , No comments


“ Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan”- Bediuzzaman Said Nur
Himpunan Mahasiswa Islam atau yang biasa disingkat HMI merupakan suatu organisasi mahasiswa yang dibentuk pada 5 Februari 1947 diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk di tingkat I. Lafran Pane merupakan seorang pemuda yang lahir di Sipirok Tapanuli Selatan, Sumatra utara. Pemuda lafran pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalisme muslim pernah mengenyam di pendidikan pesantren, ibtidaiyah, wusta dan sekolah muhamadiyah, Adapun latar belakang pemikiran dalam pendirian HMI adalah : "Melihat dan menyadari bahwa kehidupan manusia dan mahasiswa yang beragama islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memaham dan mengamalkan ajaran agamanya.” Selain itu, pada waktu itu, belum ada organisasi mahasiswa islam yang dapat menjadi wadah bagi persatuan mahasiswa Islam Indonesia untuk turut aktif berkonribusi bagi bangsa.

HMI berdiri pada saat Indonesia sedang berada pada awal kemerdekannya, maka organisasi ini turut aktif mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat. Pemikiran yang di usung oleh HMI antara lain mempertahankan NKRI dan juga  meningkatkan derajat rakyat Indonesia di dunia internasional, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.
Dalam Perkembangannya HMI mengalami berbagai fase, mulai dari perkembangan hingga tantangan seperti fase konsilidasi perkembangan spiritual (1946 - 1947), fase pengkokohan (5 febuari 1947 – 30 november 1947) yaitu selama kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa Sembilan bulan itu di pengaruhi untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu saling mengokohkan eksistensi HMI sehinga dapat berdiri tegak dan kokoh. Selanjutnya adalah fase Perjuangan Bersenjata (1947-1949) yakni seiring dengan tujuan HMI yang di gariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelangangan pertempuran melawan agresi yang di lakukan oleh belanda, membantu pemerintah baik memegang senjata bedil dan bamboo runcing, sebagai setaff, penerangan, penghubung. Selanjutnya adalah Fase pertumbuhan dan perkembangan HMI (1950-1963) yakni masa selama para kader HMI yang terjun ke gelengang pertempuran melawan pihak pihak aggressor, selama itu pula pembina organisasi terabaikan.namun hal seperti itu di lakukan secara sadar, karena itu semua meliarisir tujuan dari HMI sendiri serta dwi tugasnya yakni tugas agama dan tugas bangsa.
Fase tantangan (1964-1965) yaitu masa dimana HMI harus menghadapi tantangan ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan dendam sejarahnya begitu bersemangat ingin membubarkan HMI. Hingga akhirnya usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ini ternyata tidaklah menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi. Hingga pada puncak aksi pemberontakan PKI pada tanggal 30 september 1965 telah membuat PKI sebagai salah satu organisasi terlarang. Dan yang terakhir adalah Fase kebangkitan HMI sebagai pelopor orde baru (1966-1968) dimana HMI berperan sebagai sumber insani bangsa yang dimana turut melopori orde Baru.
Bahkan hingga saat ini HMI terus bertahan sebagai salah satu organisasi ekstra mahasiswa yang berada di berbagai universitas di Indonesia dan terus aktif melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat baik bagi anggotanya maupun bagi masyarakat luas, seperti dengan melakukan berbagai diskusi baik dalam intra maupun ekstra kampus, seminar-seminr yang melibatkan pihak pemerintah dan masyarakat, melakukan pembinaan terhadap masyarakat secara langsung seperti dengan kegiatan desa binaan, dan sebagainya. Di UGM sendiri, terdapat beberapa komisariat HMI sesuai dengan fakultas masing-masing, seperti komisariat FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), Komisariat FIB /(Fakultas Ilmu Budaya), Fakultas Tehnik dan sebagainya. Berbagai komisariat ini berada dibawah payung komisariat cabang, untuk UGM berada dibawah HMI cabang bulaksumur, Yogyakarta. Berbagai mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan ini secara aktif juga bersama-sama melakukan berbagai kegiatan seperti seperti diskusi dan aksi bersama, serta juga menjalin hubungan dengan cabang HMI  serta organisasi lainnya di berbagai universitas di Indonesia.


Sepanjang perjalanannya, HMI juga tentu saja telah banyak melahirkan berbagai tokoh penting di Indonesia antara lain seperti  Hidayat Nur Wahid, Akbar Tanjung, Munir SH, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin serta juga tokoh perjuangan yang membawa perubahan yang besar bagi Indonesia M. Amien Rais. Beliau merupakan sala satu tokoh yang berkontribusi cukup besar dalam menurunkan Rezim Soeharto yang otoriter serta membawa demokrasi yang lebih baik bagi bangsa Indonesia (orde reformasi). Saat ini merupakan giliran kita para mahasiswa generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan mereka. Perjuangan kita saat ini tidaklah seberat dahulu kawan. Kita tidak perlu lagi mengangkat senjata utuk mempertahankan kemerdekaan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan kita.  Oleh karena itu lah kita harus menghargai usaha mereka tersebut dengan terus belajar, meraih ilmu sebanyak-banyaknya, mengembangkan berbagai potensi diri, terus mencetak prestasi sehingga kedepannya kita dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia kita tercinta ini. Mahasiswa Indonesia bisa, Gadjah Mada Muda Bisa, Untuk Indonesia yang lebih baik. J (Ratu/Ravel)

HIDUP GADJAH MADA, HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!

Tulisan dibuat untuk mengisi rubrik sejarah HMI di Buletin Dialektika HMI Komisariat Fisipol UGM, September 2012.


Rabu, 16 November 2011

Anas Urbaningrum “Underdog” Sejak di HMI

BY HMI Komisariat Fisipol UGM IN , , No comments

oleh : Jarot Doso Purwanto


SAYA mengenal Anas Urbaningrum sejak tiga belas tahun lalu. Ketika itu saya sebagai wartawan yang meliput kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta. Entah bagaimana awalnya, melihat Anas sebagai kandidat ketua umum PB HMI yang santun, intelek, tapi bermodal pas-pasan, tiba-tiba muncul solidaritas kalangan wartawan untuk membelanya dalam ajang kongres itu.

Sementara para pesaing Anas ada yang dibeking pengusaha, pejabat, bahkan sejumlah jenderal aktif Orde Baru. Mungkin karena sifat dasar wartawan yang gemar memihak “underdog” (mereka yang lemah atau tertindas), ditambah karakter perlawanan mereka terhadap rezim Orde Baru waktu itu, membuat hampir semua wartawan media massa berdiri di belakang Anas.

Paling tidak, ada tiga wartawan media cetak nasional yang bergabung, yang masih saya ingat namanya. Mereka adalah Elly Rosita dari Kompas, Sururi dari Jawa Pos, dan saya sendiri dari Republika. Di luar itu, masih ada dari Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Yogya PosSuara Pembaruan, dan sebagainya. Kebetulan saya dan Elly sama-sama pernah bergabung di HMI, sehingga terpanggil ikut menjaga HMI dari intervensi kekuatan luar yang terlalu jauh. Elly mantan Wakil Bendahara PB HMI, sementara saya pernah memimpin HMI Komisariat Fisipol UGM.

Bahkan, menjelang pemungutan suara untuk memilih ketua umum PB HMI yang baru, kami para wartawan berbagi tugas: sebagian melakukan pengawalan secara fisik terhadap Anas, guna mengantisipasi ancaman penculikan oleh tim sukses pesaing. Sisanya mengawasi segala kemungkinan yang bisa terjadi di ajang kongres. Dan kami bergerak atas inisiatif sendiri, tanpa dibayar atau diperintah oleh tim sukses Anas. Justru kadang-kadang tim sukses Anas yang mengikuti arahan dari tim wartawan.

Pengawalan dilakukan dengan cara Anas dipagar betis para wartawan di lokasi kongres. Bahkan ketika tidur pun, kami haruskan Anas berada di dalam lokasi kongres, dengan dikelilingi para kuli tinta. Ini kami lakukan karena kami yakin, pihak kompetitor Anas akan pikir-pikir dua kali jika berani menculik Anas secara terang-terangan di hadapan wartawan. Kami bersama-sama tidur di lantai keramik, di teras gedung tempat kongres, hanya beralas koran atau tanpa alas apa pun.

Maklum, kongres HMI sejak dulu dikenal acap berlangsung panas, sering dihiasi baku hantam, bahkan gelas dan kursi tak jarang beterbangan di ruang kongres. Termasuk adanya aksi sabotase atau menculik kandidat lain untuk sementara waktu, agar ia tidak bisa ikut pemilihan ketua umum dan otomatis tidak terpilih. Walhasil suasana kongres HMI di Yogyakarta waktu itu juga demikian, terutama menjelang pemilihan ketua umum PB HMI.

Sementara saya sendiri, akibat dianggap terlalu memihak Anas (padahal faktanya memang demikian hahaha), sampai-sampai kantor Republika biro Yogyakarta yang terletak persis di depan lokasi kongres beberapa kali didemo. Pelakunya siapa lagi jika bukan massa HMI pendukung saingan Anas. Bahkan nyaris saja perwakilan kantor saya itu akan dibakar massa. Gara-garanya, berita saya yang dimuatRepublika, menyebut Anas sebagai kandidat ketua umum PB HMI “yang semakin bersinar.”

Tambahan kata-kata yang beropini dan memihak Anas terang-terangan itu sebetulnya bukan ulah saya. Itu hasil perbuatan redaktur saya, seorang alumni HMI, yang juga mendukung Anas. Apa yang saya lakukan sendiri tidak sejauh itu, dan masih dalam batas-batas etika jurnalistik.

Tapi apa boleh buat, karena yang menambahkan redaksi dan tanpa memberi tahu saya sebelum naik cetak, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Meski akibatnya sayalah yang harus menanggung, karena dituduh sebagai wartawan yang “tulisannya beropini dan tidak netral”. Saya pun sejak itu harus main petak umpet dengan massa pendemo yang mencari-cari saya.

Namun, di luar urusan berita, waktu kongres HMI itu saya akui bahwa saya ikut berpolitik. Saya terus mendesak yunior saya di HMI Cabang Bulaksumur untuk konsisten mendukung Anas. Bahkan, bersama mereka, saya ikut aktif melobi pengurus cabang HMI lainnya untuk mendukung Anas.
Saya menyadari, hal itu seharusnya memang tidak boleh dilakukan kaum jurnalis yang mestinya netral. Hanya konteks perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Barulah yang membuat saya bisa membenarkan tindakan saya itu.

Berusaha Dijegal
Sebagai kandidat ketua umum PB HMI, posisi Anas tidak diunggulkan kala itu. Beberapa cabang HMI yang sejak awal mengusungnya juga bukanlah cabang besar atau cabang utama. Seingat saya, pengusung awal Anas dulu adalah HMI Cabang Purwokerto, HMI Cabang Bulaksumur Sleman (UGM), dan HMI Cabang Solo. HMI Cabang Bulaksumur ini masih berusia muda, sebagai hasil pemekaran HMI Cabang Yogyakarta, sehingga belum begitu diperhitungkan.

Kekuatan Anas baru bertambah mantap ketika mendapat dukungan Saan Mustofa, yang seingat saya waktu itu Ketua HMI Badan Koordinasi (Badko) Jawa Barat. Saan Mustofa, kini anggota DPR RI, inilah yang sekarang menjadi juru bicara tim sukses Anas dan berhasil mengantarnya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Hal ini seperti mengulang sukses sebelumnya. Karena pada 1997, Saan Mustofa dkk yang  didukung kalangan wartawan, berhasil mendudukkan Anas sebagai Ketua Umum PB HMI. Tim sukses Anas lainnya waktu itu adalah Dwiki Setiyawan, yang sekarang menjadi senior saya di Kompasiana.

Dan, seperti ketika mencalonkan diri sebagai ketua umum PB HMI, posisi Anas sewaktu mencalonkan diri sebagai kandidat ketua umum Partai Demokrat sekarang pun tidak mendapat dukungan keluarga Cikeas, sehingga sempat tidak diunggulkan oleh para pengamat, alias dianggap “underdog”.

Nah, salah satu peristiwa dramatis yang selalu saya ingat dari ajang kongres HMI di Yogyakarta tersebut ialah adanya upaya cukup kasar untuk menjegal Anas. Hal ini terjadi tak lama setelah dimulainya penghitungan suara pemilihan ketua umum PB HMI. Ketika itu tiba-tiba saja listrik padam dan ruangan kongres gelap gulita.

Sejenak kemudian kami, para wartawan, yang berada di dekat kotak suara melihat sosok berkelebat mengambil kota suara dan membawanya lari ke arah belakang gedung. Suasana pun menjadi sangat gaduh. Kami ikut berteriak-teriak memprotes tanda-tanda kecurangan yang mencolok mata ini. Kami menduga, isi kotak suara telah dimanipulasi selama dibawa lari, dan hal itu sengaja dilakukan untuk menjegal Anas, karena Anas sementara terlihat unggul dalam penghitungan suara.

Para wartawan pun berembug. Saya, Elly, Sururi, mewakili tiga media nasional utama, sepakat akan memboikot atau mem-blackout liputan terhadap kongres HMI jika pemungutan suara untuk memilih ketua umum PB HMI tidak diulang. Para wartawan yang lain mendukung. Panitia pelaksana kongres pun keder juga menerima ancaman koalisi media massa. Pemungutan suara akhirnya diulang kembali, dan hasil akhirnya Anas menang dengan perbandingan suara yang jauh meninggalkan kompetitornya.

Begitulah sekelumit kisah saya tentang Anas sewaktu ia masih aktivis mahasiswa. Setelah itu, saya bertahun-tahun tidak bertemu dengan Anas, karena saya meninggalkan Jakarta dan pulang ke Yogya untuk meneruskan studi S2 di UGM. Beberapa waktu lalu, seusai Anas dilantik sebagai anggota DPR RI, saya tak sengaja bertemu lagi dengan sosok kalem itu di pintu lift Gedung Nusantara I DPR RI.

Syukurlah, meski sekian lama tidak bertemu, ternyata Anas masih ingat saya. Anas juga masih ramah seperti dulu, kendati sekarang ia menjadi anggota dewan, bahkan memimpin Fraksi Partai Demokrat, fraksi terbesar di DPR. Maka, setelah bertukar kabar sejenak, Anas berujar kepada saya, “Mampir ke ruangan saya, Mas,” katanya.

“Insya Allah,” jawab saya. Namun hingga sekarang saya belum sempat bersilaturahmi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, saya bisa berkunjung ke ruangannya, memenuhi janji saya untuk bertandang. Sebab janji adalah utang.

Akhirulkalam, selamat Bung Anas Urbaningrum. Buktikan kaum muda mampu mengawal masa depan bangsa! []